STRUKTUR INDUSTRI – PERILAKU INDUSTRI –
KINERJA INDUSTRI
Hubungan
struktur, perilaku dan kinerja industri bahwa masing-masing komponen memiliki
hubungan ketergantungan satu dengan yang lainnya. Struktur industri menunjukan
karakteristik industri, seperti elemen jumlah pembeli dan penjual, keadaan
produk, keadaan pengetahuan pembeli dan penjual, serta keadaan rintangan
industri. Keadaan karakteristik pada suatu industri memiliki arti penting bagi
iklim persaingan antar perusahaan khususnya keadaan perekonomian pada umumnya.
Keadaan jumlah dan distribusi penjual dan distribusi penjual didalam pasar
memengaruhi harga jual yang berlaku dan output yang terdapat didalam pasar.
Pasar
yang kami teliti berstruktur pasar oligopoli artinya pasar ini menjual serta memproduksi
barang yang serupa namun berbeda corak. Segala usaha-usaha penjualan yang
diterapkan oleh para pesaing akan meningkatkan permintaan pasar output
perusahaan, selanjutnya perubahan komposisi penguasaan output perusahaan pada
gilirannya akan meningkatkan keuntungan yang diterima oleh perusahaan yang
bersangkutan.
Pada bentuk
lainnya hubungan keterkaitan didalam industri antara kondisi struktur pasar,
perilaku pasar dan kinerja pasar dapat dihubungkan dalam ilustrasi sebagai
berikut industri oligopoli memiliki rintangan pasar untuk itu para pelaku
industri mengakalinya dengan melakukan berbagai hal seperti kolusi informal,
menentukan strategi bisnis, melakukan upaya penjualan dan pada akhirnya melihat
jumlah permintaan. Untuk menekan harga para pelaku industri melakukan efisiensi
produk kemudian melihat apakah dengan efisiensi tersebut sudah dapat
menghasilkan produk yang berkualitas. Setelah itu semua dilakukan promosi yang
bagus agar dapat memperoleh profit yang besar.
Analisis Industri
Seperti sebuah
industri yang kami temui dijalan Bratang jaya salah satunya adalah Pak Darmaji
yang mencari peruntungan disana. Bersama pak Darmaji ada juga Pak Ranto serta
Pak Bambang dan pedagang lainnya yang memproduksi jenis produk yang serupa. Pak Darmaji sendiri sudah kurang
lebih 10 Tahun berjualan ditempat tersebut dengan nama Kios Barokah. Pak
Darmaji menjalani usahanya dibantu dengan 3 orang karyawan untuk membatu
memproduksi pot-pot bunga untuk dijual. Pak Darmaji juga menerima pesanan dalam
hal penjualan pot dikiosnya untuk dapat menarik pelanggan. Pak Darmaji mengaku
melakukan bisinis ini karena tidak terlalu beresiko diantara bisnis-bisnis
lainnya, dikarenakan barang yang dijualnya merupakan barang yang bersifat tahan
lama dan kuat sehingga mengurangi resiko kerugian yang dikibatkan apabila
barang dagangan ada yang rusak.
Jumlah pembeli
sendiri dipasar ini cenderung stabil, Pak Darmaji mengungkapkan bahwa tidah
terjadi perbedaan penjualan yang signifikan antara satu pedagang dengan
pedagang lainnya. Karena barang yang diproduksi sama, Pak Darmaji dan pedagang
lainnya cenderung sedikit bekerja sama dalam hal pembuatan pot-pot yang akan
dijualnya agar berkualitas. Namun Pak Darmaji mengatakan bahwa ada saat-saat
tertentu penjualan menjadi sepi pada saat-saat masa lebaran atau sesudah
pergantian tahun. Dari segi jumlah
penjual sendiri dipasar ini
cenderung tetap dan tidak berubah-ubah, dikarenakan senua penjual dipasar ini
merupakan orang-orang lama yang mewariskan usahanya turun-temurun.
Pak Darmaji
bersama puluhan pedagang lainnya dipasar bratang juga tergabung dalam satu
perkumpulan yang bernama Himpunan Pangguyuban Pasar Bunga Bratang(HPPBB) dimana
pertemuan diadakan kuarang lebih sekitar 1 bulan sekali. Pertemuan tersebut
bertujuan untuk membantu para pedagang yang kurang terlatih atau kekurangan
dana untuk memproduksi barang dagangannya serta menanmpung keluh kesah para
pedagang dan bersama-sama mencari jalan keluarnya. Badan himpunan ini dipimpin
oleh Pak Tri Utomo dan juga terdapat campur tangan pemerintah didalamnya yang
siap memberikan arahan dan jalan keluar atas setiap permasalahan yang biasa
terjadi didalam pasar.
Pak Darmaji
mengatakan bahwa adanya terjalin hubungan yang baik diantara satu pedagang
dengan pedagang-pedagang lainnya membuatnya merasa tidak ada persaingan yang
ketat dalam hal berjualan. Mereka mengaku bahwa mereka saling melengkapi barang
dagangan mereka apa bila ada dari mereka yang kehabisan persediaan pot bunga.
Dalam hal harga penjualan Pak Darmaji
mengaku tidak pernah terjadi kesepakatan antara yang satu dengan yang lainnya,
para pedagang bebas mematok harga berapa saja sesuai dengan yang mereka
inginkan.
Didalam hal
berjualan Pak Darmaji mengaku tidak memiliki strategi apapun dalam hal
mendapatkan untung, yang jelas Pak Darmaji mengatakan bahwa ia sudah melakukan
yang terbaik setiap memproduksi barang dagangannya. Pemasaran yang dilakukan
oleh Pak Darmaji hanyalah informasi dari mulut kemulut, diluar itu hanya
menunggu konsumen untuk datang. Hingga kini Pak Darmaji memiliki banyak
pelanggan tetap yang 1 minggu sekali berbelanja ditempatnya untuk mengambil
barang. Dalam hal rintangan berjualan Pak Darmaji mengaku tidak mememiliki
rintangan apa-apa. Harga yang diberikan kepada pelanggan adalah harga yang
sudah pasti dan tidak bisa ditawar sehingga tidak pernah terjadi perdebatan
harga antara Pak Darmaji dan para pelanggannya. Pak Darmaji akan memeberikan
potongan harga apa bila pelanggannya mengambil barang dalam jumlah yang banyak.
Didalam pasar sendiri Pak Darmaji
diberi arahan yang baik dari himpunan tempat mereka bernaung. Dari struktur
pasarnya sendiri para pedagang diberi arahan bagaimana cara yang baik untuk
berdagang diajarkan kerja sama dalam hal berdagang, artinya saling melengkapi
satu dengan yang lainnya. Dan pada akhirnya kinerja didalam pasar sendiri dapat
berjalan dengan maksimal, pendapatan yang diperoleh satu pedagang dengan
pedagang lainnya cenderung seimbang dan tidak terjadi kecemburuan dalam hal
mencari keuntungan.
Tidak hanya ada
Pak Darmaji saja yang kami temui dipasar bunga bratang, ada juga salah satunya
adalah Pak Eko. Pak Eko baru-baru saja menjalani bisnis dipasar bunga bratang,
ia dan istri harus melanjurkan bisnis orang tuanya yang baru-baru saja
meninggal dunia. Berbekal pengetahuan yang pernah diberikan orang tuanya kini
Pak Eko dan istri berniat untuk memajukan usahanya dengan membuka cabang
ditempat lain, namun hal tersebut belum dilakukan karena masih dalm proses
mengumpulan modal usaha. Tidak berbeda jauh dengan Pak Darmaji, Pak Eko juga
mengaku tidak bersaing terlalu ketat dengan pedang lainnya malah saling
melengkapi barang dagangan untuk memperoleh keuntungan bersama, namun begitu
persaingan tetap ada dalam proses menarik pelanggan. Pak Eko mengaku sering
memberikan harga pas kepada para pelanggannya sehingga jarang terjadi proses
tawar-menawar diantara penjual dan pembeli sehingga transaksi dapat berlangsung
cepat. Dalam hal proses pembukuanpun Pak Eko hanya mencatat jumlah barang
keluar dan masuk tidak ada pembuakan yang spesifik seperti menggunakan metode
akuntansi.
Selain Pak Eko
ada juga pedagang lainnya yaitu Pak Ranto yang mengemukakan pendapat yang tidak
jauh berbeda dengan Pak Eko, kesamaan ini dikarenakan tingkat pendidikan yang
merata sehingga pengetahuan mengenai teori berjualan maupun strategi penjualan
terkesan biasa-biasa saja. Ada juga Pak Bambang yang berjualan dipasar bratang,
Pak Bambang sendiri bersama salah seorang keluarganya yang juga berjualan
dipasar bunga bratang saling bekerja sama dalam hal penjualan dan kadang
memproduksi barang bersama.
Ada juga Bu Anik
yang menjadi pelaku produsen dipasar bunga bratang ini, diumurnya yang sudah
tidak lagi muda dan sudah tidak kuat bekerja yang berat Bu Anik dibantu oleh
seorang anaknya yang juga membantu proses produksi serta membantu Bu Anik dalam
hal pembukuan didalam usahanya. Diumur Bu Anik yang sudah tidak lagi muda ia
menginginkan jika kelak usahanya yang ia rintis dan bangun sendiri ini bisa
diteruskan oleh anaknya. Tingkat pendidikan yang rendah membuat anak Bu Anik
tidak bisa berbuat apa-apa selain membantu ibunya.
Dan produsen
terakhir yang kami wawancarai adalah Pak Tri Utomo selaku mantan ketua dari
Himpunan Pangguyuban Pasar Bunga Bratang(HPPBB) sendiri. Baru kami ketahui
bahwa Pak Tri sendiri ialah salah satu diantara banyak pedagang dipasar
tersebut yang juga pernah menjabat sebagai ketua dihimpunan tersebut. Pak Tri
mengaku bahwa ia sudah tidak lagi menjabat sebagai ketua di Himpunan
Pangguyuban Pasar Bunga Bratang(HPPBB) per tanggal 1 september 2012 dikarenakan
harus ada pergantian pengurus. Keputusan yang akan mengambil ahli tugas-tugas
dari Pak Tri sendiri akan ditentukan oleh badan pusat yang mengetuai Himpunan
Pangguyuban Pasar Bunga Bratang(HPPBB).
Pak Tri banyak
bercerita mengenai suka-duka selama ia berjualan disini yang membuatnya sudah
terbiasa menghadapi rintangan yang ada didalam pasar. Pak Tri sendiri mengaku
sudah sangat lama berjualan dipasar bratang sampai ia diangkat dan dipercaya
oleh badan pusat untuk bertanggung jawab serta mengetuai Himpunan Pangguyuban Pasar
Bunga Bratang(HPPBB). Didalam pasar bratang sendiri Pak Tri mengamati tidak ada
rasa tenggang rasa atau kerja sama diantara satu produsen dengan produsen yang
lainnya, berbeda dengan yang produsen lain ceritakan kepada kami Pak Tri malah
mengungkapkan bahwa para produsen disini cenderung berusaha mencari keuntungan
sendiri-sendiri tanpa ada kerja sama diantara mereka.
Faktor
kepercayaanlah yang paling susah dalam hal kerja sama diantara mereka yang
membuat antar produsen tidak pernah saling bertukar pemikiran tetntang
bagaimana hasil produksi mereka satu sama lain.
Ø
Ada sebanyak sembilan konsep
teori perusahaan yang dijelaskan oleh Fritz Machlup :
1)
Teori perusahaan sebagai
reaktor perubahan untuk mengubah lingkungan.
2)
Diangankan sebagai perintis (
inisiator ) terutama bila dikaitkan dengan invensi dan inovasi dalam
pembangunan.
3)
Sebagai reaktor kesejahteraan.
4)
Dalam teori monopoli dan
oligopoli perusahaan dianggap sebagai reaktor
dan inisiator untuk interaksi kelompok.
5)
Sebagai suatu sistem kerja sama dengan
koordinasi dalam organisasi yang mempunyai wewenang dan tanggung jawab.
6)
Dalam ilmu manajemen teori
perusahaan diperlukan guna mengelola suatu sistem informasi dan pengambilan
keputusan.
7)
Dalam penilitian dan
konsultasi teori perusahaan mengarahkan kegiatan dan mencapai kinerja yang optimal.
8)
Teori perusahaan diperlukan
dalam aspek akuntansi.
9)
Teori perusahaan diperlukan
dalam kaitannya dengan aspek legalitas, tuntutan hak dan kewajiban ( manajemen
personalia ).
Ø
Apabila dikaitkan dengan
industri pasar bunga bratang :
1)
Teori perusahaan bagi sebagian
pedagang yanga ada dipasar bratang merupakan sebuah mesing untuk merubah
lingkunga sekitar. Seperti Pak Tri Utomo yang mengatak misi nya kedepan untuk
dapat memiliki pasar monopoli sendiri yang dikelolanya. Hanya karena
keterbatasan modal yang dimilikinya maka Pak Tri mengurungkan niatnya sementara
sampai semua modal sudah terkumpul dan mendapat dukungan dari para pedagang
lainnya.
2)
Untuk sampai dengan sekarang
ini belum banyak para pedagang berani untuk melakukan invensi dan inovasi
dipasar bunga bratang. Mereka semua disana berjualan cenderung standart
biasa-biasa saja. Jauh dari kesan
sebagai perintis ( inisiator ).
3)
Banyak diantara para pedagang
yang mengatakan dirinya dan keluarga masih jauh dari kesan sejahtera jika hanya
mengaharapkan penghasilan dari pasar bunga yang mereka buka. Penghasilan yang
mereka terima terkesan hanya cukup untuk menutupi modal dan sisanya untuk makan
sehari-hari.
4)
Dalam pasar bratang satu
pedagang dengan pedagang lainnya sering kali berinteraksi. Entah dalam bentuk
sapaan atau yang lainnya. Pertemuan juga rutin diadakan untuk menjalin
keakraban diantara semua pedagang yang terdapat dalam pasar bunga tersebut.
Kebanyakan beberapa pedagang memiliki rekan atau partner kerja sendiri-sendiri.
Hal tersebut dikarenakan keakraban yang berbeda-beda antara satu pedagang
dengan pedagang lainnya.
5)
Pasar bunga bratang memiliki
suatu wadah organisasi yang saling berkoordinasi antara satu pedagang dengan
pedagang lainnya dalam menjalin kerja sama. Pertemuan tersebut salah satunya
bertujuan untuk membantu para pedagang yang kekurangan modal untuk berjualan.
Para pedagang juga diajarkan untuk
menyisihkan sedikit dari hasil penjualan mereka dengan cara arisan ritin yang
dilakukan oleh para pedagang. Didalam organisasi tidak ada yang berhak atau
memiliki wewenang untuk mengatur pelanggan hanya diberikan arahan agar bisa
lebih baik.
6)
Pasar bunga bratang yang masih
terkesan tradisional tidak mengenal teori perusahaan yang baik, walaupun tidak
semua pedagang tersebut ketinggalan zaman dengan teknologi komputer seperti
sekarang. Kebanyakan dari mereka mengambil suatu keputusan didalam bisnis hanya
berdasarkan nalar saja , tanpa ada teori perusahaan. Sistem infomasi didalam
pasar bunga bratang sendiri hanya berdasarkan informasi dari para
pedagang-pedagang lainnya sebatas mulut kemulut.
7)
Beberapa pedagang yanga ada
didalam pasar bunga bratang terdapat beberapa orang yang mengenal
sedikit-sedikit mengenai beberapa teori perusahaan. Karena diantara mereka ada
yang pernah beberapa kali menghadiri seminar ataupun beberapa
pelatihan-pelatihan bagaimana aca berwirausaha yang baik, mengatur keuangan dan
sebagainya agar mendapat keuntungan yang optimal. Selain megatur keuangan
beberapa pedagang juga sudah mulai memperhatikan kinerja mereka sendiri, apakah
mengalami kemajuan, biasa-biasa saja atau bahkan mengalami kemunduran.
8)
Hampir semua para pedagang
yang kami hampiri tidak memiliki pembukuan yang terperinci mengenai hasil
penjualan mereka. Hanya terdapat buku pemasukan barang dan pengeluaran barang
saja yang mereka catat kedalam buku. Keterbatasan pendidikan yang membuat para
pedagang tidak dapat membuat akuntabilitas yang jelas dalam pembukuan mereka,
namum begitu mereka mengaku tidak pernah merasa kerugian yang besar atas
pembukuan yang mereka buat sendiri.
9)
Semua pedagang yang kami temui
mengatakn bahwa pasar tempat dimana mereka berjualan merupakan hal yang legal.
Karena mereka mengantongi surat-surat izin yang digunakan untuk berjualan
dipasar bratang. Mengenai hal atau strategi berjualan merekapun yakin semuanya
sudah sesuai dengan aturan yang berlaku didalam pasar tersebut. Mengenai
kewajiban, para pedagang mengaku sudah memenuhi kewajibannya dengan membeli
tempat dimana mereka berjualan dan sudah membayar uang bulanan yang diminta
oleh himpunan yang menaungi mereka. Dengan begitu mereka sudah berhak untu
dapat berjualan dengan nyaman didalam pasar bunga bratang tanpa takut digusur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar